NUNUKAN – Momentum Hari Jadi ke-27 Kabupaten Nunukan pada 12 Oktober 2026 tidak hanya menjadi ajang perayaan perjalanan daerah, tetapi juga kesempatan untuk mengevaluasi capaian pembangunan, mengidentifikasi tantangan, serta memperkuat langkah bersama demi masa depan Nunukan yang lebih maju dan sejahtera.
Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Nasir, S.Pi., M.M., menilai tema Hari Jadi ke-27 Kabupaten Nunukan, “Kreatif Berkarya, Nunukan Maju”, harus diwujudkan melalui gagasan, inovasi, dan karya nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kreatif berkarya jangan berhenti menjadi slogan. Kreativitas itu harus hadir dalam cara kita mengelola potensi daerah, menyelesaikan persoalan masyarakat, membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan. Ujungnya adalah Nunukan yang benar-benar semakin maju,” ujar Muhammad Nasir.
Capaian Pembangunan Harus Dirasakan Masyarakat
Menurut Nasir, perjalanan Kabupaten Nunukan selama 27 tahun telah menunjukkan berbagai kemajuan yang patut disyukuri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Nunukan pada 2025 mencapai sekitar Rp42,73 triliun dengan pertumbuhan sebesar 3,98 persen. Kontribusinya terhadap perekonomian Kalimantan Utara juga mencapai sekitar 26,92 persen.
Dari sisi kesejahteraan, persentase penduduk miskin tercatat turun dari 6,79 persen pada 2021 menjadi 5,27 persen pada 2025. Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Nunukan pada 2025 mencapai 69,87.
Meski sejumlah indikator menunjukkan perkembangan positif, Nasir mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui angka pertumbuhan ekonomi semata.
“Pertumbuhan ekonomi harus bisa dirasakan sampai ke rumah-rumah masyarakat. Ukuran keberhasilan kita adalah ketika masyarakat semakin mudah mendapatkan pekerjaan, usaha kecil berkembang, anak-anak memperoleh pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan semakin dekat, listrik dan air bersih tersedia, serta konektivitas antarwilayah semakin baik,” katanya.
Ia menegaskan, pembangunan harus mampu menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat, termasuk peningkatan akses terhadap layanan dasar dan terbukanya kesempatan ekonomi yang lebih luas.
Tantangan Pembangunan Nunukan Masih Besar
Sebagai wilayah kepulauan, pedalaman, sekaligus perbatasan negara, Kabupaten Nunukan menghadapi tantangan pembangunan yang membutuhkan pendekatan khusus.
Persoalan konektivitas jalan dan transportasi, pemerataan listrik, ketersediaan air bersih, jaringan telekomunikasi, akses pendidikan dan kesehatan, hingga tingginya biaya distribusi barang masih memerlukan perhatian bersama.
Nasir menilai kondisi geografis Nunukan yang mencakup Pulau Nunukan, Sebatik, wilayah pedalaman, hingga Krayan membuat pembangunan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam.
“Nunukan ini wilayahnya sangat luas. Ada Pulau Nunukan, Sebatik, wilayah pedalaman dan Krayan. Karena itu pendekatan pembangunan tidak bisa disamaratakan. Negara harus hadir sampai ke masyarakat yang paling jauh di perbatasan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat. Menurutnya, banyak persoalan pembangunan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu tingkat pemerintahan karena berkaitan dengan pembagian kewenangan dan kebutuhan anggaran yang besar.
“Jangan sampai masyarakat menjadi korban karena kita terjebak pada kalimat itu bukan kewenangan kami. Kalau kewenangannya ada di pusat, kita perjuangkan ke pusat. Kalau ada di provinsi, kita dorong provinsi. Yang terpenting persoalan masyarakat harus mendapatkan jalan keluar,” ujarnya.
Perbatasan Harus Menjadi Beranda Ekonomi Indonesia
Di balik tantangan tersebut, Nasir melihat Nunukan memiliki potensi besar yang dapat menjadi kekuatan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Posisi geografis Nunukan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, menurutnya, tidak boleh hanya dipandang dari perspektif keamanan dan penjagaan batas wilayah. Perbatasan juga harus dikembangkan sebagai beranda ekonomi Indonesia yang mampu menciptakan peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sektor perdagangan lintas batas, perikanan dan kelautan, rumput laut, pertanian, perkebunan, peternakan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga ekonomi kreatif dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan.
“Kita jangan puas hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah. Rumput laut, hasil pertanian, perkebunan dan perikanan kita harus mulai didorong masuk ke hilirisasi. Kalau pengolahan dilakukan di Nunukan, nilai tambahnya tinggal di Nunukan, lapangan kerja tumbuh di Nunukan dan anak-anak muda kita mendapatkan peluang usaha di daerah sendiri,” katanya.
Nasir menilai penguatan hilirisasi menjadi salah satu langkah penting agar potensi sumber daya alam tidak hanya menghasilkan komoditas mentah, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi perekonomian lokal.
Selain itu, digitalisasi UMKM, penguatan perdagangan perbatasan, dan peningkatan infrastruktur ekonomi perlu terus didorong agar pelaku usaha lokal mampu memperluas pasar dan bersaing.
Anak Muda Harus Menjadi Pelaku Pembangunan
Nasir juga menyoroti pentingnya memberikan ruang lebih besar kepada generasi muda dalam pembangunan daerah. Menurutnya, semangat “Kreatif Berkarya” harus menjadi dorongan bagi anak muda untuk berani membangun usaha, memanfaatkan teknologi digital, mengembangkan produk lokal, serta mempromosikan pariwisata, kuliner, seni, dan budaya Nunukan.
Keberagaman suku, adat, tradisi, dan budaya yang dimiliki masyarakat Nunukan, lanjutnya, bukan hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi kreatif.
“Kita ingin anak muda Nunukan tidak hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi pelaku pembangunan, pengusaha, inovator dan pencipta lapangan kerja. Pemerintah harus menciptakan ekosistem yang membuat mereka berani berkarya,” tambahnya.
Menurut Nasir, dukungan terhadap generasi muda perlu diwujudkan melalui kesempatan berusaha, peningkatan keterampilan, akses pasar, pemanfaatan teknologi, serta kebijakan yang mendukung tumbuhnya usaha-usaha baru di daerah.
Hari Jadi Menjadi Momentum Bergerak Bersama
Memasuki usia ke-27, Nasir berharap seluruh elemen masyarakat dapat memperkuat kolaborasi dan mengesampingkan sekat-sekat yang berpotensi menghambat pembangunan.
Pemerintah, DPRD, dunia usaha, tokoh masyarakat, pemuda, akademisi, dan masyarakat luas diharapkan bergerak bersama sesuai peran masing-masing untuk menjawab berbagai kebutuhan pembangunan Nunukan.
“Saya mengucapkan Selamat Hari Jadi ke-27 Kabupaten Nunukan. Terima kasih kepada para pendiri, pemimpin terdahulu, tokoh masyarakat dan seluruh masyarakat yang telah memberikan karya terbaiknya untuk daerah ini,” ucapnya.
Ia berharap pembangunan ke depan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga mampu menghadirkan pemerataan, keadilan, dan kesejahteraan bagi masyarakat, mulai dari kawasan perkotaan hingga pedalaman dan perbatasan.
“Nunukan mempunyai semua modal untuk maju: sumber daya alam, posisi geografis yang strategis, masyarakat yang pekerja keras, keberagaman budaya serta generasi muda yang potensial. Tinggal bagaimana semua kekuatan itu kita satukan dan kelola dengan baik,” katanya.
Nasir mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Jadi ke-27 sebagai momentum memperkuat optimisme, kreativitas, dan kerja bersama untuk masa depan daerah.
“Mari kita jadikan Hari Jadi ke-27 sebagai momentum memperkuat optimisme dan kerja bersama. Jangan hanya kreatif dalam gagasan, tetapi kreatif melahirkan karya yang menyelesaikan persoalan masyarakat. Itulah makna sesungguhnya dari ‘Kreatif Berkarya, Nunukan Maju’. Dirgahayu Kabupaten Nunukan ke-27. Semoga semakin maju, sejahtera dan membanggakan,” pungkas Muhammad Nasir, S.Pi., M.M., Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara dari Fraksi PKS, Komisi II, sekaligus Anggota Badan Anggaran.










